Muslim Diwajibkan Memilih Pemimpin Muslim

Umat ​​Islam tidak memilih pemimpin non-Muslim – Pada kesempatan kali ini Dutadakwah akan membahas Surat Al-Maidah ayat 51. Ayat ini berisi larangan bagi umat Islam untuk memilih pemimpin non-Muslim dengan pembahasan yang singkat dan jelas. Silakan lihat ikhtisar berikut untuk detail lebih lanjut.

Muslim tidak memilih pemimpin non-Muslim

Saat kita berada di gereja, jangan memilih pemimpin non-Muslim. Pilih pemimpin Musli yang arif dan arif. Silakan ikuti uraian di bawah ini untuk penjelasan yang relevan.
Pemimpin adalah pemimpin

 

Muslim-Diwajibkan-Memilih-Pemimpin-Muslim

 

Berikut Ini Telah Kami Kumpulkan Yang Bersumber Dari Laman https://www.dutadakwah.co.id/ Yang Akhirnya Saya Tuliskan Disini.

Sepeninggal Rasulullah SAW. banyak perselisihan tentang siapa yang akan menjadi penggantinya. Karena Nabi adalah akhir dari Ambiya, maka dipilihlah tokoh masyarakat Muslim berikutnya pada saat ini. Saat itu, Khalifah Abu Bakar Ashidiq diangkat menjadi pemimpin dan penerus perjuangan Nabi Muhammad. saat itu.

Maka di benak kita semua muncul pertanyaan apakah yang menjadi pemimpin adalah agama selain Islam, apakah itu diperbolehkan atau tidak.

Surat Al-Maida Ayat 51

Allah Ta’ala berkata:

يايها الذين امنوا لا تتخذوا اليهود والنصرى اوليآءيآء

Hai orang-orang yang beriman, janganlah mengambil orang Yahudi dan Kristen sebagai auliya untuk dirimu sendiri; sebagian adalah auliya untuk orang lain. Barangsiapa menganggap mereka sebagai auliya di antara kamu, maka orang itu benar-benar termasuk kelasnya. Sungguh, Allah memberikan kepada mereka yang berbuat salah , tidak ada kepemimpinan. “(Surat Al-Maida: 51)

Hai kamu yang beriman, jangan menjadikan orang Yahudi dan Kristen pembantu yang kamu taati. Mereka sama melawanmu. Siapapun yang menjadikan mereka pemimpin telah memasuki kelas mereka. Sesungguhnya, Allah tidak akan membimbing orang-orang yang salah dengan menjadikan orang-orang kafir sebagai penguasa mereka.

Auliya ‘atau Wali

Ada berbagai arti wali atau awliya. Di antara artinya, wali adalah pemimpin. Istilah lain wali adalah untuk penjaga anak yatim piatu, penjaga yang terbunuh, penjaga perempuan. Penjaga yang disebutkan di sini adalah orang yang sebelumnya bertanggung jawab atas urusan mereka. Semacam pemimpin negara juga bertanggung jawab untuk mengatur rakyatnya dan untuk mengatur ketertiban dan larangan. Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 45: 135.

Syekh Muhammad bin Salih Al-‘Uthaimin mengatakan bahwa Wali (juga disebut al-Wilayah) memiliki arti yang berbeda dalam bahasa Arab. Lalu apa yang dimaksud dengan seorang wali atau awliya yang tidak bisa diambil dari seorang Yahudi dan seorang Kristen?

Yang dimaksud adalah membantu satu sama lain, yaitu mengatakan membantu mereka, apakah membantu mereka di sini berarti mengalahkan umat Islam atau membantu mereka mengalahkan orang-orang kafir lainnya. Meski begitu, kita tidak boleh membela mereka untuk mengalahkan orang-orang kafir kita. Selama bantuan kami untuk mereka tidak bermasalah bagi Islam, kami tidak bisa. Namun jika kita memiliki keuntungan bagi umat Islam, misalnya orang kafir yang saling bermusuhan sering melukai umat Islam, maka kita bantu yang tidak sering menyiksa umat Islam, tidak apa-apa karena ada maslahat. (Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Surat Al-Maidah, 2: 9)

Penjelasan Ibn Kathir

Ibn Kathir menjelaskan ayat ini: “Allah Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya yang beriman setia kepada Yahudi dan Kristen. Mereka adalah musuh Islam dan sekutunya. Semoga Allah menyertai mereka kehancuran. Kemudian Allah menyatakan bahwa mereka saling berhadapan auliya. Kemudian Allah mengancam dan memperingatkan orang-orang beriman yang melanggar larangan ini: “Siapapun di antara kamu yang menjadikan kamu sebagai pemimpin, maka orang ini sebenarnya termasuk kelas kamu. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada para pelaku kejahatan. “(Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3: 417).

Arti lain dari wali

Makna lain dari awliya ‘atau wali adalah pemimpin atau orang yang diberi tanggung jawab atas hal-hal penting, seperti dalam kisah Umar berikut ini.

Ibn Kathir mengutip cerita dari Umar bin Khathab. Umar bin Khathab pernah memerintahkan Abu Musa Al Asy’ari agar pencatatan pengeluaran dan pendapatan pemerintah dilakukan oleh satu orang. Abu Musa memiliki seorang juru tulis yang beragama Kristen. Abu Musa juga menunjuknya untuk melakukan pekerjaan itu. Sayidana Umar bin Khathab sangat senang dengan hasil karyanya.

Umar berkata, “Pekerjaan orang ini bagus.”

Umar melanjutkan, “Apakah orang ini bisa dibawa dari Syam untuk dibacakan laporan di depan kita di masjid?”

Abu Musa menjawab, “Dia tidak bisa masuk ke masjid.”

Umar bertanya, “Kenapa? Apakah karena dia Junub?”

Abu Musa menjawab, “Tidak. Dia tidak bisa karena dia seorang Kristen.”

Umar juga menegur saya dengan kasar dan memukul paha saya sambil berkata, “Pecat dia.”

Umar kemudian membacakan ayat (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, jangan bawa orang-orang Yahudi dan Kristen menjadi pemimpin (mu); sebagian adalah pemimpin bagi Sebahagian lainnya. Siapapun di antara kamu menganggap mereka sebagai pemimpin, maka orang itu sebenarnya milik kelasnya. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada pelaku kejahatan. ”(Diedit oleh Ibn Abi Hatim dengan Sanad dan Matannya. Abu Ishaq Al-Huwaini menyatakan bahwa hadits ini adalah Sanad Hasan. Lihat Tafsir Al-Qur ‘ke Al-‘ Azhim, 3: 417-418)

Jelas ayat ini melarang menjadikan orang kafir sebagai pemimpin atau orang-orang pada posisi strategis yang berurusan dengan kepentingan umat Islam.

Itulah gambaran dari; Umat ​​Islam jangan memilih pemimpin non-Muslim – semoga bisa membawa manfaat dan ilmu bagi kita semua. Terima kasih.

 

Lihat Juga : https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-tawasul-arab-ringkas/